Tampilkan postingan dengan label Smart Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smart Education. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Maret 2013

Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu akan memotongmu

"Al-waqtu kas-saif illam-taqtho'hu qatha'aka"
Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya,
niscaya pedang itu yang akan memotongmu.."

Rata-rata manusia meninggal dunia antara usia 60 thn-70thn

Pukul rata manusia meninggal ± 65 th, beruntung yg diberikan umur panjang dan dimanfaatkan sisa umurnya.
Baligh: Start untuk seseorang di perhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup di dunia?

Laki-laki Baligh ± 15 tahun

Wanita Baligh ± 12 tahun

Usia Yang tersisa untuk kita beribadah kepada-Nya kita pukul rata dengan rumus:

MATI-BALIGH= sisa USIA ?????..65-15= 50 tahun

Lalu 50 tahun ini digunakan untuk apa saja ?

12 jam siang hari,,,,,,,,
12 jam malam hari
24 jam satuharisatumalam

Mari kita tela'ah bersama.

Waktu kita tidur ± 8 jam/hari
Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur 18250 hari x 8 jam= 146000 jam=16 tahun, 7 bulan??
di bulatkan jadi 17 tahun

Logikanya : Alangkah sayangnya waktu 17 tahun habis di gunakan untuk tidur, padahal kita akan tertidur dari dunia untuk selamanya?

Catatan: Yang lebih bermasalah lagi bagi mereka yang tumor alias tukang molor, bisa jadi 12 jam/hari =25 tahun habis tertidur!!! Hati-hati dengan penyakit ?TUMOR?

Waktu aktivitas kita di siang hari ± 12 jam
Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai aktivitas:18250 hari x12 jam=219000 jam= 25 tahun

Aktivitas di siang hari : Ada yang bekerja, atau bercinta, ada yang belajar atau mengajar, ada yang sekolah atau kuliah,

ada yang makan sambil jalan-jalan, ada pula yang gambling sambil maling?
dan masih banyak lagi aktivitas lainnya yang tak pernah bisa disamaratakan satu dengan yang lain??..

Waktu aktivitas santai atau rilexsasi ± 4 jam
Dalam 50 tahun waktu yang dipakai rileksasi 18250 hari x 4 jam= 73000 jam = 8 tahun

Realisasi rileksasi: biasanya nonton tv sambil minum kopi, ada pula yang belajar mati-matian/bikin contekan habis-habisan buat ujian, atau mungkin dihabiskan termenung di buai khayalan??

17 tahun + 25 tahun + 8 tahun = 50 tahun Plus plos/ Balance
Tidur??Ngelembur?Nganggur

Lalu kapan Ibadahnya?
Padahal manusia diciptakan-Nya tiada lain dan tiada bukan untuk semua dan segalanya hanyalah beribadah kepada-Nya, karena satu hal yang pasti kita akan kembali ke alam hakiki Illahi.

Maut datang menjemput tak pernah bersahut
Malaikat datang menuntut untuk merenggut
Manusia tak kuasa untuk berbicara
Tuhan Maha Kuasa atas syurga dan Neraka?

Memang benar! kuliah itu ibadah, kalau niat kuliahnya untuk ibadah, lha wong kita mah kuliah mau nyari ijazah, bakal nanti bekerja agar mudah mencari nafkah?

Memang benar ! Bekerja cari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana? Orang kita bekerja sikut sanah sikut sinih,

banting tulang banting orang, tujuan utamanya cari uang buat beli barang-barang biar dipandang orang-orang?..

jarang orang menolak untuk di puji dan di puja tatkala mereka berjaya ?
Pernah kita membaca bismillah saat hendak berangkat kuliah tapi sayang hanya sekedar pernah?
Pernah kita berniat mulia saat hendak mencari nafkah, tapi semuanya terlupa ketika melihat gemerlapnya dunia.

Lalu kapan ibadahnya?
Oh mungkin saat sholat yang 5 waktu itu dianggap cukup ?!
Karena kita pikir; sholat begitu besar pahalanya, sholat amalan yang dihisab paling pertama, sholat jalan untuk membuka pintu syurga???Kenapa kita harus cukup kalau ibadah kita hanyalah sholat kita !

Berapa sholat kita dalam 50 tahun ?

1x sholat = ± 10 menit ?..5x sholat ± 1 jam
Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai sholat=18250 hari x I jam =18250 jam= 2 tahun
ini dengan asumsi semua sholat kita diterima oleh Allah swt.

Kesimpulan: waktu yang kita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia cuma 2 tahun untuk sholat????
2 tahun dari 50 tahun kesempatan kita?.itupun belum tentu sholat kita bermakna berpahala dan di terima..
Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun berpahala rasa-rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama

50 tahun; dalam ucap kata kita yang selalu dusta, baik yang terasa maupun yang di sengaja, dalam ucap kata kita yang selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta kaya kita yang selalu kikir terhadap orang faqir, dalam setiap laku langkah kita yang selalu bergelimang dosa.

Logika dari logikanya:
Bukan satu yang tidak mungkin kita umat di akhir jaman akan berhamburan di neraka untuk mendapatkan balasan kelalaian.
Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu akan menjadi bencana.

Solusi:
Tiada kata terlambat walaupun waktu bergulir cepat, isilah dengan sesuatu apa yang bermanfaat . Jangan di tunda-tunda lagi?
Ingat malaikat maut akan datang kepada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Akhirat adalah tujuan kita yang terakhir !

Apakah kita siap menyambut malaikat maut kapan saja dan dimana saja ?

Jumat, 09 November 2012

Buku BSE IPS Kelas 1 SD

IPS Kelas 1


Penyusun
:
Wiji Rahayu
Penerbit
:
Depdiknas RI 2010
Editor
:
-
Setting & Layout
:
-
Desain Sampul
:
Aldo Ronaldy
Ukuran Buku
:
17,6 x 25 cm
Download
:


Penyusun
:
Lilis Yuliyanti dkk.
Penerbit
:
Depdiknas RI 2010
Editor
:
Ermawati dkk.
Setting & Layout
:
Aneke Purwaningrum
Desain Sampul
:
Desteka
Ukuran Buku
:
17,6 x 25 cm
Download
:


Penyusun
:
Ari Pitoyo dan Issufiah D
Penerbit
:
Depdiknas RI 2010
Editor
:
Ester Upik Sulistyowati
Setting & Layout
:
Lusi Astitik
Desain Sampul
:
Desteka
Ukuran Buku
:
17,6 x 25 cm
Download
:

Minggu, 04 November 2012

Antara Intelegensi dan Adab

“Eh…jeng, saya bangga deh anak saya bentar lagi jadi dokter,
minggu depan mau wisuda hebat ya anak saya..?!”
“Oh gitu jeng….ya lebih hebat anak saya dong jeng, anak saya tuh dapet beasiswa dari pemerintah buat ngelanjutin S2 di luar negri supaya jadi ekonom hebat …!”
Kontras….disamping ibu-ibu bawel yang lagi ngebanggain anak-anak nya, ada seorang ibu yang Cuma mesem-mesem doank. Ibu itu di tanya oleh salah satu dari ketiga ibu yang lagi unjuk kebanggaan .
“anak jeng gimana? dari tadi ko diem terus cerita dong!”
“ah…..anak saya mah bu Cuma tamatan madrasah Aliyah, ga dilanjutin kuliah, jadi muadzin mushola aja saya mah udah seneng bu..” jawabnya agak minder lalu dibalas senyum sinis terkesan ngejek dari si jeng-jeng yang nge-jengkelin itu.

Penggalan cerita diatas menggambarkan seperti apa persepsi yang berbeda-beda dari sebagian masyarakat terhadap pendidikan dan hasilnya, dan bagaimana interpretasi sebuah kata ‘hebat’ dan kesuksesan dalam pendidikan yang berbeda-beda pula di kalangan penduduk negara berkembang ini. Apa kita tertarik pada konsep sukses pendidikan seperti ibu yang mempunyai anak yang bisa adzan dan mampu memakmurkan mushola? atau kita lebih tertarik pada konsep keberhasilan pendidikan seperti ibu yang anaknya mendapat penghargaan dan jaminan dari pemerintah?. Entahlah….. mari kita mengaca diri.
Bak seorang anak yang sedang belajar naik sepeda, naik jatuh lalu mencoba naik kemudian kembali terjatuh lagi. Dunia pendidikan di nusantara ini pun mengalami pasang-surut dalam perjalanannya. Dari mulai penyesuaian metode Hindu-Budha ke pendidikan masa Islam, dari perjuangan melalui tekanan, jajahan dan pen-diskriminasi-an pendidikan di masa kolonial yang pada masanya banyak melahirkan tokoh-tokoh pendidikan nasional seperi; Ki Hajar Dewantara, M. Natsir, HAMKA, Sultan Takdir Alisyahbana, Budi Utomo dan sederet pilar pendidikan Indonesia lainnya. Juga dari zaman kemerdekaan hingga era reformasi yang menyisakan hitam-putih pendidikan Indonesia.
Tidak salah bila bangsa ini memberikan apresiasi positif berupa penghargaan semacam bantuan beasiswa atau jaminan lainnya, yang pemerintah berikan kepada anak bangsa berprestasi supaya lebih berhasil, yang di harapkan dapat menambal lubang-lubang perjuangan pendahulu mereka dalam memperbaiki pendidikan masyarakat tanah air sehingga mengharapkan peningkatan signifikan dan mewujudkan masyarakat madani yang berintelektual. Seperti saat ini saja, pendidikan dasar pun sudah dapat dirasakan dan diterima semua lapisan masyarakat tanpa membedakan status social-ekonomi walaupun masih banyak juga anak-anak yang berkeliaran menyambung hidup disaat jam-jam belajar berlangsung. Namun yang menjadi pertanyaan besar, apa dengan penghargaan, beasiswa, serta layanan pendidikan lainnya yang diatur oleh kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini dapat menjamin pendidikan emosi/moral anak bangsa akan terjaga dan sesukses pendidikan intelektualitasnya..??
Disinilah urgennya peran Adab, disamping diterapkannya kecerdasan intelektual masyarakat terutama anak bangsa, adab juga harus menjadi good habbit masyarakat Indonesia. Kecerdasan intelektual saja belum cukup untuk membekali anak negri dalam mengarungi zaman, menjaga martabat bangsa dan mencapai kesuksesan hidup. Karena intelegensi/IQ bukanlah satu-satunya potensi yang berperan dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang sebab selebihnya akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti EQ & SQ yang kemudian dipadukan menjadi ESQ. Daniel Goleman menyebutkan bahwa kontribusi IQ terhadap keberhasilan hidup seseorang hanyalah berkisar 20% sementara 80% lainnya ditentukan oleh yang dinamakan EQ. Karena emosional adalah bagian dari adab, dan adab adalah kecerdasan emosional yang ditempa dengan kecerdasan spiritual.
Parlindungan Marpaung penulis buku best seller “Setengah Isi Setengah Kosong”, diakhir penutup pada bukunya “Fulfilling Life” ia menulis sebuah do’a yang indah untuk anaknya; “Tuhan..berilah hamba seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan mengenal diri sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan..”. Indah bukan? Itulah perpaduan Emotional Quotient dan Spiritual Quotient yang dipinta Marpaung untuk mendidik anaknya. Itulah Adab.
Kata ‘al-Adabu’ pada masa kejayaan Islam digunakan dalam arti umum, yaitu semua ilmu pengetahuan (Az-Zubaidi I:144). Menurut Ma’luf selain digunakan untuk semua jenis ilmu pengetahuan juga untuk ilmu yang khusus berkaitan dengan keindahan atau sastra. Disini menunjukkan adanya perubahan makna dari umum menjadi khusus. Kata ‘al-Adabu’ dalam bahasa Arab bermakna ‘husnul akhlaaq wa fi’lul makaarim’ yakni budi pekerti yang baik dan perilaku yang terpuji. Kemudian kata itu berarti pula ‘adh-Dhorfu’ yaitu sopan santun, dan ‘riyaadlotun nafsi wa mahaasinul akhlaaq’ yang berarti melatih/mendidik jiwa dan memperbaiki akhlak. Kata-kata ini menunjukkan kepada makna akhlak yang baik.
Pendidikan moral atau yang dikenal dengan adab harus lebih dini diberikan kepada seorang anak sebelum diberikannya pengajaran ilmu pengetahuan lain. Karena adab adalah pondasi kuat semua ilmu pengetahuan dan kebijaksanaaan. Hal ini menunjukkan pada proses ta’dib terjadi sebelum ta’lim, makna ini sejalan dengan hadits Nabi s.a.w dari Anas r.a riwayat Ibnu Hibban (lihat juga Fathul Baari Syarah Shohih Bukhori jilid I hal 190). Hal ini juga diperkuat oleh pendapat M. Nashih Ulwan yang intinya menjelaskan, anak usia 7-14 tahun adalah fase yang yang wajib dipupuk pendidikan adab, lalu usia 14-16 lebih di beri pengajaran-pengajaran lain. Hal ini tidak berarti ilmu pengetahuan tidak boleh/tidak penting di berikan sejak kecil namun pendidikan adab mendapat prioritas utama, sehingga setelah berilmu tidak hanya pintar tetapi cerdas dan beradab.
Seperti kalimat dari do’a seorang Marpaung diatas, kalimat ‘mengenal Tuhan’ dengan ‘mengenal diri sendiri’ disebut sebelum kata ‘ilmu’ dan kontekstualnya dijadikan landasan ilmu pengetahuan. Juga seperti sebuah cerita dalam bahasa arab yang mengisahkan Pangeran Inggris saat kecil yang malas belajar dan mempunyai kesombongan terhadap gurunya bahwa ia akan menjadi seorang raja. Ayahnya, Raja Inggris menegur “..kaifa takuunu maalikan idza lam tataadzdzab wa tata’allam..?!”, bagaimana engkau akan menjadi seorang raja jika tidak beradab dan berilmu. Disini kata ‘tataadzdzab’ yang berarti beradab, disebut sebelum kalimat ‘tata’allam’ yang berarti berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral/adab merupakan pendidikan yang pertama dan utama.
Hal ini yang harus diperhatikan lebih serius oleh para praktisi pendidikan dan dikaji lebih lanjut oleh pemerintah untuk diterapkan pada system pendidikan Indonesia. Apa gunanya bila berilmu tapi tak beradab? Apa gunanya berintelektualitas tinggi namun bermental bobrok? Apa gunanya menjadi dokter hebat bila ilmunya disalah gunakan? Apa gunanya menjadi ekonom hebat namun malah menipu rakyat?. Bahkan seorang pengurus mushola yang tidak mampu belajar di perguruan tinggi tetapi mempunyai adab lebih mulia dari pada mereka yang menyalah gunakan ilmunya. Wallahu ‘alam []
Oleh : Ayyash Aqiel (Pendidikan Sejarah)

Mengintip sejarah pendidikan indonesia masa kolonial

Sejarah pendidikan yang akan diulas adalah sejak kekuasaan Belanda yang menggantikan Portugis di Indonesia. Brugmans menyatakan pendidikan ditentukan oleh pertimbangan ekonomi dan politik Belanda di Indonesia (Nasution, 1987:3). Pendidikan dibuat berjenjang, tidak berlaku untuk semua kalangan, dan berdasarkan tingkat kelas. Pendidikan lebih diutamakan untuk anak-anak Belanda, sedangkan untuk anak-anak Indonesia dibuat dengan kualitas yang lebih rendah. Pendidikan bagi pribumi berfungsi untuk menyediakan tenaga kerja murah yang sangat dibutuhkan oleh penguasa. Sarana pendidikan dibuat dengan biaya yang rendah dengan pertimbangan kas yang terus habis karena berbagai masalah peperangan.

Kesulitan keuangan dari Belanda akibat Perang Dipenogoro pada tahun 1825 sampai 1830 (Mestoko dkk,1985:11, Mubyarto,1987:26) serta perang Belanda dan Belgia (1830-1839) mengeluarkan biaya yang mahal dan menelan banyak korban. Belanda membuat siasat agar pengeluaran untuk peperangan dapat ditutupi dari negara jajahan. Kerja paksa dianggap cara yang paling ampuh untuk memperoleh keuntungan yang maksimal yang dikenal dengan cultuurstelsel atau tanam paksa (Nasution, 1987:11). Kerja paksa dapat dijalankan sebagai cara yang praktis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Rakyat miskin selalu menjadi bagian yang dirugikan karena digunakan sebagai tenaga kerja murah. Rakyat miskin yang sebagian bekerja sebagai petani juga dimanfaatkan untuk menambah kas negara penguasa.

Untuk melancarkan misi pendidikan demi pemenuhan tenaga kerja murah, pemerintah mengusahakan agar bahasa Belanda bisa diujarkan oleh masyarakat untuk mempermudah komunikasi antara pribumi dan Belanda. Lalu, bahasa Belanda menjadi syarat Klein Ambtenaarsexamen atau ujian pegawai rendah pemerintah pada tahun 1864. (Nasution, 1987:7). Syarat tersebut harus dipenuhi para calon pegawai yang akan digaji murah. Pegawai sedapat mungkin dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang telah mempunyai kekuasaan tradisional dan berpendidikan untuk menjamin keberhasilan perusahaan (Nasution, 1987:12). Jadi, anak dari kaum ningrat dianggap dapat membantu menjamin hasil tanam paksa lebih efektif, karena masyarakat biasa mengukuti perintah para ningrat. Suatu keadaan yang sangat ironis, kehidupan terdiri dari lapisan-lapisan sosial yaitu golongan yang dipertuan (orang Belanda) dan golongan pribumi sendiri terdapat golongan bangsawan dan orang kebanyakan.

Pemerintah Belanda lambat laun seolah-olah bertanggung jawab atas pendidikan anak Indonesia melalui politik etis. Politik etis dijalankan berdasarkan faktor ekonomi di dalam maupun di luar Indonesia, seperti kebangkitan Asia, timbulnya Jepang sebagai Negara modern yang mampu menaklukkan Rusia, dan perang dunia pertama (Nasution, 1987:17). Politik etis terutama sebagai alat perusahaan raksasa yang bermotif ekonomis agar upah kerja serendah mungkin untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Irigasi, transmigrasi, dan pendidikan yang dicanangkan sebagai kedok untuk siasat meraup keuntungan. Irigasi dibuat agar panen padi tidak terancam gagal dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan. Transmigrasi berfungsi untuk penyebaran tenaga kerja, salah satunya untuk pekerja perkebunan. Politik etis menjadi program yang merugikan rakyat.

Pendidikan dasar berkembang sampai tahun 1930 dan terhambat karena krisis dunia, tidak terkecuali menerpa Hindia Belanda yang disebut mangalami malaise (Mestoko dkk, 1985 :123). Masa krisis ekonomi merintangi perkembangan lembaga pendidikan. Lalu, lembaga pendidikan dibuat dengan biaya yang lebih murah. Kebijakan yang dibuat termasuk penyediaan tenaga pengajar yang terdiri dari tenaga guru untuk sekolah dasar yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan guru (Mestoko, 1985:158), bahkan lulusan sekolah kelas dua dianggap layak menjadi guru. Masalah lain yang paling mendasar adalah penduduk sulit mendapatkan uang sehingga pendidikan bagi orang kurang mampu merupakan beban yang berat. Jadi, pendidikan semakin sulit dijangkau oleh orang kebanyakan. Pendidikan dibuat untuk alat penguasa, orang kebanyakan menjadi target yang empuk diberi pengetahuan untuk dijadikan tenaga kerja yang murah.

Pendidikan dibuat oleh Belanda memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama, gradualisme yang luar biasa untuk penyediaan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Belanda membiarkan penduduk Indonesia dalam keadaan yang hampir sama sewaktu mereka menginjakkan kaki, pendidikan tidak begitu diperhatikan. Kedua, dualisme diartikan berlaku dua sistem pemerintahan, pengadilan dari hukum tersendiri bagi golongan penduduk. Pendidikan dibuat terpisah, pendidikan anak Indonesia berada pada tingkat bawah. Ketiga, kontrol yang sangat kuat.

Pemerintah Belanda berada dibawah kontrol Gubernur Jenderal yang menjalankan pemerintahan atas nama raja Belanda. Pendidikan dikontrol secara sentral, guru dan orang tua tidak mempunyai pengeruh langsung politik pendidikan. Keempat, Pendidikan beguna untuk merekrut pegawai. Pendidikan bertujuan untuk mendidik anak-anak menjadi pegawai perkebunan sebagai tenaga kerja yang murah. Kelima, prinsip konkordasi yang menjaga agar sekolah di Hindia Belanda mempunyai kurikulum dan standar yang sama dengan sekolah di negeri Belanda, anak Indonesia tidak berhak sekolah di pendidikan Belanda. Keenam, tidak adanya organisasi yang sistematis. Pendidikan dengan ciri-cri tersebut diatas hanya merugikan anak-anak kurang mampu. Pemerintah Belanda lebih mementingkan keuntungan ekonomi daripada perkembangan pengetahuan anak-anak Indonesia.

Pemerintah Belanda juga membuat sekolah desa. Sekolah desa sebagai siasat untuk mengeluarkan biaya yang murah. Sekolah desa diciptakan pada tahun 1907. Tipe sekolah desa yang dianggap paling cocok oleh Gubernur Jendral Van Heutz sebagai sekolah murah dan tidak mengasingkan dari kehidupan agraris (Nasution, 1987:78). Kalau lembaga pendidikan disamakan dengan sekolah kelas dua, pemerintah takut penduduk tidak bekerja lagi di sawah. Penduduk diupayakan tetap menjadi tenaga kerja demi pengamankan hasil panen.

Sekolah desa dibuat dengan biaya serendah mungkin. Pesantren diubah menjadi madrasah yang memiliki kurikulum bersifat umum. Pesatren dibumbui dengan pengetahuan umum. Cara tersebut dianggap efektif, sehingga pemerintah tidak usah membangun sekolah dan mengeluarkan biaya (Nasution, 1987:80). Guru sekolah diambil dari lulusan sekolah kelas dua, dianggap sanggup menjadi guru sekolah desa. Guru yang lebih baik akan digaji lebih mahal dan tidak bersedia untuk mengajar di lingkungan desa.

Masa penjajahan Belanda berkaitan dengan pendidikan merupakan catatan sejarah yang kelam. Penjajah membuat pendidikan sebagai alat untuk meraup keuntungan melalui tenaga kerja murah. Sekolah juga dibuat dengan biaya yang murah, agar tidak membebani kas pemerintah. Politik etis menjadi tidak etis dalam pelaksanaannya, kepentingan biaya perang yang sangat mendesak dan berbagai masalah lain menjadi kenyataan yang tercatat dalam sejarah pendidikan masa Belanda.

Belanda digantikan oleh kekuasaan Jepang. Jepang membawa ide kebangkitan Asia yang tidak kalah liciknya dari Belanda. Pendidikan semakin menyedihkan dan dibuat untuk menyediakan tenaga cuma-cuma (romusha) dan kebutuhan prajurit demi kepentingan perang Jepang (Mestoko, 1985 dkk:138). Sistem penggolongan dihapuskan oleh Jepang. Rakyat menjadi alat kekuasaan Jepang untuk kepentingan perang. Pendidikan pada masa kekuasaan Jepang memiliki landasan idiil hakko Iciu yang mengajak bangsa Indonesia berkerjasama untuk mencapai kemakmuran bersama Asia raya. Pelajar harus mengikuti latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinasi yang ketat.

Sejarah Belanda sampai Jepang dipahami sebagai alur penjelasan kalau pendidikan digunakan sebagai alat komoditas oleh penguasa. Pendidikan dibuat dan diajarkan untuk melatih orang-orang menjadi tenaga kerja yang murah. Runtutan penjajahan Belanda dan Jepang menjadikan pendidikan sebagai senjata ampuh untuk menempatkan penduduk sebagai pendukung biaya untuk perang melalui berbagai sumber pendapatan pihak penjajah. Pendidikan pula yang akan dikembangkan untuk membangun negara Indonesia setelah merdeka.

Setelah kemerdekaan, perubahan bersifat sangat mendasar yaitu menyangkut penyesuaian bidang pendidikan. Badan pekerja KNIP mengusulkan kepada kementrian pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan supaya cepat untuk menyediakan dan mengusahakan pembaharuan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan rencana pokok usaha pendidikan (Mestoko, 1985:145). Lalu, pemerintah mengadakan program pemberantasan buta huruf. Program buta huruf tidak mudah dilaksanakan dengan berbagai keterbatasan sumber daya, kendala gedung sekolah dan guru. Kementrian PP dan K juga mengadakan usaha menambah guru melalui kursus selama dua tahun. Kursus bahasa jawa, bahasa Inggris, ilmu bumi, dan ilmu pasti(Mestoko dkk, 1985:161). Program tersebut menunjukkan jumlah orang yang buta huruf seluruh Indonesia sekitar 32,21 juta (kurang lebih 40%), buta huruf pada tahun 1971. Buta huruf yang dimaksud adalah buta huruf latin (Mestoko dkk, 1985:327). Jadi, kegiatan pemberantasan buta huruf di pedesaan yang diprogramkan oleh pemerintah untuk menanggulangi angka buta aksara di Indonesia dan buta pengetahuan dasar, tetapi pendidikan kurang lebih tidak berdampak pada rumah tangga kurang mampu.

Kemerdekaan Indonesia tidak membuat nasib orang tidak mampu terutama dari sektor pertanian menjadi lebih baik. Pemaksaan atau perintah halus gampang muncul kembali, contoh yang paling terkenal dengan akibat yang hampir serupa seperti cara-cara dan praktek pada jaman Jepang, bimas gotong royong yang diadakan pada tahun 1968-1969 disebut bimas gotong royong karena merupakan usaha gotong royong antara pemerintah dan swasta (asing dan nasional) untuk meyelenggarakan intensifikasi pertanian dengan menggunakan metode Bimas (Fakih, 2002:277, Mubyarto, 1987:37). Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi beras dalam waktu sesingkat mungkin dengan mengenalkan bibit padi unggul baru yaitu Peta Baru (PB) 5 dan PB 8.37. Pada jaman penjajahan Belanda juga pernah dilakukan cultuurstelsel, Jepang memaksakan penanaman bibit dari Taiwan. Jadi, rakyat dipaksakan mengikuti kemauan dari pihak penguasa. Cara tersebut kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai cara untuk menghasilkan panen yang lebih maksimal. Muller (1979:73) menyatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan di Indonesia bahwa sebagaian besar masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan, paling-paling hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling minim, dan hampir tidak bisa beradaptasi aktif sedangkan golongan atas hidup dalam kemewahan.

Pendidikan pada masa Belanda, Jepang dan setelah kemerdekaan sulit dicapai oleh orang-orang dari rumah tangga kurang mampu. Mereka diajarkan dan diberi pengetahuan untuk kepentingan pihak penguasa. Mereka dijadikan tenaga kerja yang diandalkan untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Setelah jaman kemerdekaan, rakyat dari rumah tangga kurang mampu terus menjadi sumber pemaksaan secara halus untuk pengembangan bibit padi unggul. Pendidikan sebagai alat penguasa untuk mengembangkan program yang dianggap dapat mendukung peningkatan pemasukan pemerintah.

*) Ayyash ‘Aqiel (Pendidikan Sejarah) dari beberapa sumber.